Sepenggal cerita dari perjalanan menelusuri 'JALUR EVAKUASI LAPAR'.......

24 Agustus 2009

Bakso Kuto Cak To



Dari semangkuk bakso, aromanya saja bisa membuat orang penasaran untuk ingin menikmatinya..

Bakso…??? Siapa sih gak kenal dengan makanan lezat yang terbuat dari daging dan berbentuk bundar ini..?? Dari aromanya saja bisa membuat orang penasaran untuk ingin menikmatinya. Beberapa waktu yang lalu, sewaktu ke Sidoarjo, aku sempatkan mampir di salah satu depot bakso. Tepatnya Bakso Kuto Cak To. Tempat makan ini berkonsep seperti warung dengan desain ruangannya terbuka. Sebuah tempat makan yang sangat nyaman di sekitar GOR Delta Sidoarjo. Untuk masalah harga..?? Standar dompet pelajar…!!! Kalo urusan rasa… Coba sendiri aja..



Karena rasanya yang khas dan harga relatif murah, Bakso Kuto Cak To banyak digemari mulai dari kalangan pelajar sampai pekerja kantoran.

Di setiap daerah masakan bakso memiliki karakter sendiri-sendiri. Untuk Jawa Timur sendiri, bakso yang terkenal ada dua macam, yaitu bakso Malang dan bakso Solo. Perbedaan yang mencolok dari kedua jenis bakso ini terletak pada kuahnya. Karakter dari bakso Malang kuahnya cenderung lebih bening karena bumbu-bumbu yang digunakan adalah bumbu mentah. Sedangkan untuk bakso Solo, karakternya memiliki kuah yang lebih kental serta lebih keruh. Ini dikarenakan bumbu yang digunakan digoreng terlebih dahulu.


Dengan tata ruang terbuka dan sirkulasi udara yang sangat bagus,
suasana santai dan nyaman adalah sebuah konsep yang ditawarkan oleh Bakso Kuto Cak To


Lalu bagaimana dengan Bakso Kuto Cak To..??? Bakso ini didirikan oleh Wachid Basir Krismanto atau lebih dikenal dengan nama Cak To. Sejak masih SMA pria ramah ini telah mulai merintis usaha dibidang kuliner. Berbagai usaha warung hingga café pernah dia coba. Dengan menu aneka macam penyetan (nasi sambel tempe penyet, telur, ayam, lele, ikan laut) pernah dicoba dan tak jarang usahanya malah gulung tikar. "Dulu bangkrut dari usaha itu kayaknya sudah langganan" ujar Cak To. Karena berangkat dari pengalaman itu menuntutnya untuk kembali memutar otak dan merintis usaha baru lagi. Karena menurutnya kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dari sebuah kegagalan kita bisa belajar dimana letak kesalahan dan kekurangan kita. Sehingga untuk kedepannya kita harus lebih baik.



"Untuk mendapatkan usaha seperti saat ini saya harus berulang kali jatuh bangun dan mengalami gulung tikar. Tapi dengan semangat untuk kembali berdiri, belajar dari kegagalan dan diiringi doa, kesuksesan pasti bisa kita genggam" kata Cak To

Sampai akhirnya Cak To melihat bakso sebagai usaha makanan yang memiliki prospek kedepan paling bagus. Bagaimana tidak.?? Hampir setiap tempat makan diberbagai daerah, jenis makanan ini paling banyak ditawarkan dan penyajiannya tidaklah terlalu merepotkan. Mulai dari rumah makan, depot, kaki lima hingga gerobak dorong, makanan ini sangat mudah ditemukan. Dan penikmatnya juga banyak..

Setelah kurang lebih enam bulan bereksperimen, akhirnya Cak To menemukan formula racikan yang lain dari kebanyakan penjual bakso. Sebuah resep baru gabungan dari bumbu-bumbu khas Bakso Solo dan Bakso Malang. Untuk pertama kali resep temuannya diuji coba kepada beberapa teman dan saudara… Ternyata hasilnya… Hemmm… Mantap…



Higienis adalah harga mati untuk standart produksi Bakso Kuto Cak To

Setelah racikannya mendapatkan respon yang menggembirakan, bakso buatannya mulai dipasarkan untuk umum. Karena Cak To sangat tahu produknya memiliki ciri khas dan berbeda dengan produk penjual bakso yang lain, dia menentukan standart khusus proses produksi agar kualitasnya tetap terjaga. “Standart khusus itu adalah menggunakan bahan baku berkualitas tinggi. Mulai dari bumbu, sayur, serta daging yang digunakan harus masih segar. Proses produksi juga harus mengutamakan kehigienisan, dan yang tak kalah penting semua produk buatannya sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet. Selain itu cara penyajian juga mempengaruhi laku tidaknya produk kita” ucap Cak To dengan penuh optimis.



Dengan konsep prasmanan, pembeli bisa memilih sendiri menu yang disukainya

Untuk cara penyajian, tempat makan di jalan Raya Pahlawan Sidoarjo ini memilih konsep prasmanan. Karena menurutnya pembeli bisa memilih sendiri makanan, sesuai dengan selera atau yang disukainya saja. Tata ruang dibuat terbuka seperti warung, hal ini bertujuan untuk menghilangkan kesan mahal dari harga produk makanan yang ditawarkan. Disamping itu agar suasana bisa lebih santai karena sirkulasi udaranya bagus.

Pernah salah satu gerai bakso rekanannya sepi dan jarang pembeli. Tapi ketika Cak To datang ke lokasi, ternyata tempatnya tertutup seperti kebanyakan sebuah depot. Sehingga banyak orang berpendapat makanan yang dijual pastilah mahal. Dan ternyata setelah dirombak dengan tata ruang yang lebih terbuka, gerai baksonya mulai ramai didatangi pembeli.



Lebih dari 40 varian menu ditawarkan Bakso Kuto Cak To

Bakso Kuto Cak To memiliki lebih dari 40 varian menu yang ditawarkan, seperti : bakso halus, bakso kasar, bakso super kasar, bakso isi telur puyuh, bakso isi tuna chunk, bakso isi smoked beef, bakwan goreng, siomay udang, ekado, dan lain-lain. Meskipun banyak orang yang menyarankan untuk menambah varian makanan yang dijual, tetapi pria ini memutuskan untuk konsentrasi pada menu bakso saja.

Karena banyak permintaan masyarakat dari luar daerah ataupun yang rumahnya jauh dari Sidoarjo, sekitar tahun 2006 Cak To mulai menawarkan system kemitraan atau wara laba.



Jl.Raya Pahlawan
Sidoarjo-Jawa Timur
Telp. 031 716 946 69
(031) 807 0166

14 Agustus 2009

"Festival Kelezatan Sepenuh Hati"



Apapun makanannya, resep tradisional warisan nusantara adalah yang paling cocok dengan lidah orang Indonesia..

Akhirnya saat-saat yang dinanti itu telah tiba…
Setelah sukses Jakarta dan Bandung, Festival Jajanan Bango 2009 kembali digelar di Surabaya. Lebih dari 51 gerai penjaja makanan tradisional khas Jawa Timur, 10 gerai aneka minuman dan jajanan pasar serta ditambah 8 duta Bango turut ambil bagian dalam meramaikan festival kelezatan yang digelar 8 Agustus 2009 kemarin.


Menikmati aneka makanan di festival kelezatan sepenuh hati akan lebih nikmat jika bersama orang-orang tercinta..


Meski acara yang mengusung tema “Festival Kelezatan Sepenuh Hati” ini baru dibuka untuk umum jam 12.00 WIB, namun para pemburu kelezatan kuliner tradisional telah banyak berdatangan sejak pagi. Ditandai dengan pelepasan ratusan balon dan gunting pita oleh Memoria Dwi Prasita brand manager Bango, akhirnya serangkaian acara FJB 2009 resmi dibuka.




Memoria Dwi Prasita brand manager Bango memberikan potongan tumpeng kepada Surya Saputra..

Dalam pesta makan-makan kali ini pengunjung bisa dengan mudah menemukan berbagai makanan tradisional khas Jawa Timur. Dari pintu masuk utama , pengunjung langsung disambut dengan aneka gerai makanan. Mulai dari lontong balap, lontong kupang, semanggi, tahu campur, tahu tek, dan rujak cingur, sate kuda, aneka bakso, pempek, dan masih banyak aneka makanan yang lain akan menyambut pengunjung dengan berbagai aroma khasnya. Meski siang itu sangat panas, tapi tak mampu menghentikan keinginan pengunjung dalam berburu kelezatan kuliner warisan nusantara.



Meski siang itu sangat panas, tapi para pengunjung tetap rela antri unutk mencicipi resep spesial rujak Bango..

Siang itu aku juga sempat mencicipi rujak Cingur Sedati. Bentuk ‘layah’ atau ‘cobek’ (tempat menghaluskan berbagai bumbu terbuat dari batu) yang memiliki ukuran super besar, cukup membuatku penasaran. Sambil memperhatikan ibu Nur Aini ‘menguleg’ (menghaluskan dengan alat) berbagai macam bumbu, aku memesan 1 porsi rujak. Bumbu rujak petis Sedati, sangat berbeda dengan bumbu-bumbu rujak petis pada umumnya. Siapa sangka ternyata petis yang digunakan adalah racikan dari 7 macam petis berkualitas dan teknik meracik yang orisinil.


Inilah ibu Nur Aini Rujak Cingur Sedati dengan layah atau cobek super besarnya ..

Selain itu ibu separuh baya ini telah bereksperimen mencampur adonan bumbu dengan kecap bango. Dan ternyata campuran bahan ini justru memberikan rasa yang sangat lezat. Dengan gaya bicaranya yang menggebu-gebu, ibu Nur Aini menceritakan bahwa dalam satu adonan bumbu ‘layah’ ekstra besar ini, bisa digunakan untuk 100-125 porsi. Upss…!! Berarti dalam sehari dia bisa membuat berapa porsi ya…?? Tak lama setelah membayar Rp. 15.000,- rujak petis Sedati ini segera aku santap. Dan Hemmm... mantap banget campuran petisnya...


Cingur sapi dan berbagai bahan baku pilihan adalah rahasia kelezatan dari Rujak Cingur Sedati ibu Nur Aini.


Dari gerai rujak petis Sedati aku menuju Dapur Bango Cita Rasa Nusantara. Di tempat ini host Surya Saputra selaku pemandu program, tengah mencoba melakukan uji resep lontong Kupang Suko. Dengan ditemani salah satu ahli racik Lontong kupang dari pasar Suko Sidoarjo ini, step by step proses pembuatan lontong kupang dilakukan bersama-sama.


Inilah yang namanya 'Lenthu'..
salah satu teman menyantap lontong kupang.
Makanan gorengan ini terbuat dari bahan sejenis kacang-kacangan.

Makanan khas Jawa Timur yang satu ini adalah lontong yang penyajiannya bersama dengan kupang (sejenis binatang laut) kemudian disiram dengan kuah dari campuran petis dan cabe. Menyantap lontong kupang akan lebih lengkap jika ditemani dengan sate kerang dan segelas es degan sebagai penawar racun yang mungkin terkandung dalam kupang laut tersebut. Dan diakhir acara Surya Saputra mendapat kehormatan mencicipi racikan ala lontong kupang pasar Suko Sidoarjo.



Ekspresi Surya Saputra ketika mencicipi resep warisan dari Lontong Kupang Pasar Suko Sidoarjo. "Wussh... hem... nyam... nyam..."



"Mansteb tenan Bu...!!" Acungan jempol untuk racikan yang sangat istimewa ini...

Setelah menyaksikan aksi di Dapur BCRN, aku mencoba melihat-lihat gerai makanan yang lain. Ada rasa penasaran juga untuk mengunjungi satu-persatu 8 Duta Bango yang mewakili kota Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Tegal, Medan dan tuan rumah Surabaya sendiri. Pemilihan Duta Bango sendiri, ternyata berdasarkan beberapa kriteria penilaian. Penilaian itu adalah berdasarkan keunggulan resep warisan, bahan baku pilihan, serta cara memasak yang otentik dan penyajian tradisional.



Pondok Sate Pejompongan Jakarta mulai disibukkan dengan aktivitas bakar sate sejak sebelum acara ini resmi dibuka...

Kedelapan duta Bango tersebut adalah Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan (Jakarta), Tahu Goreng Sei Putih (Medan), RM Timlo Sastro (Surakarta), Tahu Kupat Gempol Yang Jempol (Bandung), Brongkos Daging Ibu Suprih (Yogyakarta), Nasi Lengko Warung Pi’an (Tegal), dan Tahu Bakso Ibu Pudji (Ungaran-Semarang).



Kupat Tahu Gempol yang Jempol dengan berbagai persiapannya, datang jauh-jauh dari Bandung hanya untuk melayani para pemburu kelezatan kota pahlawan dan sekitarnya...

Karena harus balik lagi ke kantor, sekitar jam 14.00 aku cabut dari arena FJB 2009. Tapi pada malam harinya balik lagi, berburu kelezatan makanan tradisional. Kali ini ditemani pacar tersayang. Sembari menikmati racikan menu spesial dari Bakso Bogo yang letaknya cukup dekat dengan panggung hiburan, alunan merdu dari Sang Diva Krisdayanti menambah nikmatnya setiap menit yang dilewati. Bener-bener makan malam yang tak akan terlupakan.. Sayang Festival kelezatan ini cuman berlangsung sehari. Belum puas rasanya mencicipi beberapa menu tradisional yang ada….


14 Juli 2009

Sensasi "Brrrrrrr....!!!" Ayam Presto Cola



Menu baru yang ditawarkan resto Malioboro.

Menikmati sebuah menu ayam presto jadi ingat dengan salah satu iklan minuman. Setelah meminum produk itu langsung sensasi Brrrr bisa dirasakan… seluruh tubuhnya bergetar, dan bahkan ada burung yang minum semua bulu-bulunya langsung ‘brodol’ atau rontok. Hehehehe… ntar kira-kira ada yang rontok gak ya kalo coba cicipin menu yang ada dihadapanku ini..???



Bagi pelanggan yang tidak bisa datang langsung ke resto ini, bisa memesan melalui delivery order.

Kali ini aku dapat kesempatan mencicipi menu baru di rumah makan Ayam Tulang Lunak Malioboro. Menu baru yang ditawarkan resto di jalan RA. Kartini 47 Surabaya ini, adalah ayam presto cola dan ayam presto petasan. Dari namanya saja tentu kita bakal punya gambaran gimana bentuk dan rasanya. Sembari menunggu datangnya makanan, aku coba-coba ngobrol dengan salah seorang karyawan dan cari tahu tentang keistimewaan menu baru ini.


Suasana outdor dan didukung hiasan lampu akan memberikan suasana romantis bagi pasangan kekasih yang makan di tempat ini.


Ayam presto cola adalah ayam yang cara memasaknya dipresto dan saat memasaknya dicampur dengan cairan cola. Dengan perhitungan yang tepat, kombinasi tersebut akan memberikan rasa yang sangat nikmat. Seperti menu yang ada di depanku saat ini. Setelah aku coba cicipi ternyata memang rasanya sedikit aneh jika dibandingkan masakan pada umumnya. Daging ayam yang lunak khas resto ini, semakin terasa nikmat dipadukan dengan sensasi ‘semeriwing’ dari karbonasi minuman cola. Rasanya cenderung manis dan ada sedikit asam-asamnya.. Kalo pengin tahu bagaimana sensasi Brrr..nya mending langsung dijoba sendiri aja.



Ayam presto cola memberikan sensasi rasa yang sangat kental dengan aroma dan karakter khas dari cola. Selain itu paduan bumbunya juga memberikan rasa asam dan manis.

Menu yang lainnya adalah ayam presto petasan. Dari namanya tentu kita bisa langsung bayangin gimana pedasnya ayam yang satu ini. Bener banget, menu ini adalah menu andalan resto Malioboro untuk para pelanggannya yang maniak makan-makanan pedas. Dari mulai potongan pertama, keringatku langsung mulai bercucuran dan kepala seperti terasa panas karena pedasnya. Sangat cocok jika menu ini diberi nama ayam presto petasan. Karena menurut kebanyakan orang yang pernah mencicipi, sensasi super pedasnya sama kerasnya dengan bunyi petasan…



Inilah ayam presto petasan yang menurut para pelanggan memiliki rasa super pedas.

Menikmati kedua menu ini tentu akan lebih lengkap jika dimakan dengan menu-menu yang lain seperti cah kangkung, plencing kangkung atau pete goreng. Kedua menu ayam presto ini tiap satu potongnya seharga Rp. 14.500,-. Sedangkan untuk tiap satu ekor ayam presto dihargai Rp.58.000,- Pengin mencoba sensasi ayam presto cola dan petasan…???


Lokasi :
Ayam Tulang Lunak 'Malioboro'
Jl. RA.Kartini 47 Surabaya.
Telp. (031) 567 7498 - 568 7165
Fax. (031) 567 7498

13 Juli 2009

'SATE LALAT ala Pak Yuto'



Pak Yuto telah lebih dari 20 tahun berjualan sate Lalat.


Beberapa waktu yang lalu teman-teman club motor mengajak touring dan jalan-jalan ke pulau Madura. Dengan tujuan kawasan wisata pulau Lombang dan sekalian menikmati jembatan Suramadu yang baru saja diresmikan. Pada akhir Juni kemaren sepakat sekitar 50 motor menjelajahi eksotika pulau Madura. Jadwal pemberangkatan dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama jam 13.00 dan kloter kedua berangkat jam 17.00 wib.


Kawasan SAE Salera adalah sebuah area di jalan Niaga, kota Pamekasan. Dikawasan ini banyak terdapat lapak-lapak kaki lima yang menawarkan aneka kuliner khas kota Pamekasan.

Karena harus nunggu pulang kerja, aku ikut pemberangkatan kloter ke II. Sekitar jam 16.30 beberapa peserta yang tidak bisa ikut kloter pertama, telah mulai berkumpul di depan DPRD II Surabaya. Dari groundzero tersebut, selepas magrib sekitar 11 motor berangkat menuju pulau Madura. Melintasi jembatan Suramadu perjalanan cenderung lancar. Tidak seramai saat rombongan kloter I berangkat.

Karena karakter jalan di pulau Madura cenderung sempit dan sangat panjang, membuat beberapa peserta mengantuk dan harus istirahat sejenak. Pada jam 19.45 wib, leader rombongan memutuskan untuk berhenti sejenak dan istirahat. Di sebuah SPBU di jalan Trunojoyo Pamekasan, rombongan beristirahat dan menikmati aneka makanan ringan di cafenya. Sembari beristirahat, aku coba kontak rombongan kloter I. Ternyata rombongan sempat berhenti di SPBU yang sama pada jam 20.00 wib tadi. Karena iring-iringan sepeda motor yang sangat panjang membuat rombongn tidak bisa memacu kecepatan tinggi. Dari pada terjebak macet karena iring-iringan yang terlalu panjang, akhirnya kami memutuskan untuk menunda perjalanan dan menunggu kloter I, tiba di lokasi tujuan terlebih dahulu.



Bagi beberapa orang dari luar kota Pamekasan, tulisan yang terdapat disalah satu sisi lapak kaki lima ini tentu akan membuat penasaran.

Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya kami memilih jalan-jalan dulu menikmati suasana malam hari di kota Pamekasan. Kota Pamekasan sama sekali tidak seperti yang banyak orang katakan, rawan kejahatan dan sepi. Tapi ternyata kotanya tak beda jauh seperti kebanyakan kota2 lain di Jawa Timur. Cukup ramai, bising dan penuh gemerlap lampu kota. Dan banyak pendatang dari Jawa Tengah dan beberapa kota di Jawa Timur telah banyak yang tinggal di kota tersebut.


Sembari beristirahat dan menunggu rombongan pertama tiba di lokasi tujuan, rombongan kloter ke II ini tengah asyik menikmati kuliner malam kota Pamekasan.

Sesampainya di Pamekasan, laju motor mengarah di kawasan SAE Salera. Sebuah kawasan yang banyak dijumpai aneka lapak kaki lima yang menjajakan kuliner khas pulau Madura. Di kawasan jalan Niaga ini rombongan berhenti di salah satu lapak kaki lima. Sate Lalat adalah menu yang ditawarkan kaki lima tersebut. Ada sedikit rasa penasaran saat membaca tulisan disalah satu sisi warung tersebut. Sate Lalat..??? Apa mungkin Lalat bisa disate..?? Heheheheh…



Satu porsi sate lalat yang terdiri dari 25 tusuk sate dan sepiring lontong ini hanya dihargai Rp.7.500,-

Setelah memarkir motor, aku langsung menghampiri penjual satenya. Aku langsung memesan beberapa porsi untuk teman-teman yang lain dan mulai asyik ngobrol ‘kesana-kemari’. Setelah hanyut dalam obrolan yang cukub akrab, akhirnya saya tahu apa itu sate Lalat. Pak Yuto yang mengaku telah lebih dari 20 tahun berjualan sate dengan ramah menjelaskan apa itu sate lalat. Ternyata sate lalat adalah sate ayam dan terkadang juga sate kambing yang dalam penyajian, dagingnya diiris kecil-kecil. Ukurannya lebih kecil dibandingkan sate pada umumnya. Karena ukurannya yang mini itulah, maka sate ini disebut sate lalat. Untuk satu porsi sate Lalat yang terdiri dari 25 tusuk sate dan satu piring lontong cuma dihargai Rp.7.500,-. Cukup murah kan..??



Lokasi :
Kawasan SAE SALERA
Jl. Niaga - PAMEKASAN
MADURA

20 April 2009

‘Special European Causine’ ala Mary’s Resto



Malam minggu yang cerah, membuat tanganku gatal untuk segera mengambil motor dan tancap gas menikmati suasana kota. Setelah memasuki ruas jalan di tengah kota, ternyata keramaian lalu lintas cukup membuat moodku jadi sedikit berubah. Ramainya beberapa tempat nongkrong dan ruas jalan ditengah kota, membuatku banting haluan menuju kawasan Surabya Barat. G Walk adalah sebuah kawasan yang aku tuju. Nuansa lampu hias warna-warni menambah semakin menariknya tempat makan yang sebagian besar berkonsep outdoor ini.




Memasuki kawasan G Walk, kecepatan motor mulai aku kurangi. Ternyata di kawasan ini beberapa tempat makan dan ruas jalannya tak kalah ramai. Disalah satu deretan tempat makan, terdapat sebuah resto yang baru saja dibuka. Beberapa karangan bunga ucapan selamat masih ada di samping pintu masuknya. Dari luar café ini terkesan tampak nyantai banget. Meskipun tempatnya tidak terlalu besar tetapi kesan elegan muncul dari setingan interiornya. Tempat makan itu bernama Mary’s Resto.


Resto yang ternyata dikelola oleh para entrepreneur muda ini, mengambil menu andalan special European Causine. Aneka masakan ala Eropa disajikan sesuai lidah orang Surabaya. Sebagai menu andalan bulan ini Mary’s Resto menawarkan Menu Buntut yang terdiri dari sop buntut bakar, sop buntut kuah, sop buntut goreng dan beberapa menu olahan dari bahan dasar iga atau ribs yang terdiri dari sop iga bakar, sop iga madu, Iga lada hitam, ribs eye steak, dan ribs steak. Sensasi manis dari madu akan memberikan rasa yang lebih pada beberapa masakan di resto ini.


Ketika memasuki resto ini, para pengunjung akan disambut alunan musik yang easy listening. Nuansa coklat dan beberapa frame foto stylelife menghiasi tembok salah satu resto di kawasan perumahan elite Ciputra ini. Dalam rangka promo bulan ini, hampir semua menu masakan diberlakukan diskon sebesar 30 %. Menu masakan yang ditawarkan di resto Mary’s varian harga untuk satu porsinya berkisar antara Rp.10.000 hingga Rp. 25.000,-. Selain aneka menu buntut dan iga para pengunjung juga bisa menikmati aneka pilihan jus buah segar sebagai pendamping makanan.



Bagi yang kurang menggemari menu olahan dari buntut dan iga, pengunjung masih bias memilih beberapa menu alternatif yang lain. Beberapa menu lain tersebut adalah aneka steak, spaghetti bolognaise, salad buah, salad sayur dan sop merah. Bagi yang pengin menikmati malam minggu romantis bersama pasangan, tempat ini bisa dijadikan alternatif untuk tempat makan malam.



Lokasi :
Ruko Taman Gapuro/G Walk B 16
Citraland Surabaya.


17 April 2009

"Roti Unyil Bikin Orang Doyan Ngemil.."



Beberapa waktu yang lalu kawasan Surabaya diselimuti mendung yang sangat tebal.. Padahal sore harinya aku ada janjian ketemu dengan seorang pemilik kios makanan ringan di daerah Sutorejo Prima. Meski belum pernah main kerumah keluarga muda ini, bermodal alamat aku meluncur menuju daerah di Surabaya Timur ini.


Dengan diiringi rintik hujan yang mulai turun, akhirnya aku sampai juga dialamat tersebut. Kios mungil yang berdiri disamping sebuah rumah yang megah itu adalah ‘Roti Unyil Cherry Red’. Setelah jeprat-jepret, beberapa detik kemudian hujan deraspun mulai mengguyur komplek perumahan Sutorejo Prima….



Sambil menunggu hujan reda sang tuan rumah mengajak meliha
t langsung proses pembuatan roti unyil. Dinamakan roti unyil karena memang bentuknya sangat mungil, lebih kecil dari kebanyakan roti yang tersebar dipasaran. Meskipun bentuknya lebih kecil, tetapi untuk rasa dan kualitas bahan bakunya tidak kalah dengan roti-roti bermerek lain. Bentuknya yang mungil dan warnanya yang mengundang selera menjadi dayak tarik makanan ringan ini. Tak hanya anak-anak, para orang dewasapun banyak yang menyukai cita rasanya.



Selain menggunakan bahan-bahan lokal seperti ragi instan, tepung terigu, gula ataupun mentega, Lucky Anie Sowadji sang pemilik Cherry Red juga mendatangkan bahan impor. Seperti fresh cream dan beberapa bahan lain yang tidak didapatkan di pasar lokal. Harga yang dipatok terbilang cukup murah, tiap jenis roti dihargai Rp.1.500. Selain menyediakan aneka ragam varian roti unyil, ibu muda ini juga melayani pemesanan. Jika pagi dipesan, siang harinya sudah bisa diambil.



Para penikmat roti unyil juga bisa melihat langsung saat roti sedang dihias maupun saat sedang di masak di dalam oven. Karena didalam showroom mungil tersebut, beberapa produknya dibuat secara langsung. Meskipun sebagian besar produknya adalah makanan yang bikin orang jadi doyan ngemil, tetapi ternyata di tempat ini juga menyediakan roti tawar dengan aneka ukuran.


Setiap harinya pembuatan roti dilakukan sebanyak dua kali.
Aneka pilihan rasa seperti burger, roti unyil dengan isi sosis, cream keju, white forest, coklat stowberry, blueberry, coffe mocca dan beberapa menu lainnya bisa ditemukan dikios Cherry Red yang beralamatkan di jalan Sutorejo Prima Utara I/20 PCC 19 Surabaya. Pengin ngemil roti unyil…????


Roti Unyil
'Cherry Red'
Jl. Sutorejo Prima Utara I/20 PCC 19
Telp. 031 70915537, 5981181
Fax. 031 5981689

14 April 2009

"Nasi Goreng Jancuk...!!!"


Ditengah semrawutnya lalu lintas kota, tiba-tiba ponselku berdering berulang kali... Sebuah pesan aku terima, "Bem.. ditunggu di Cafe Taman Surabaya Plasa Hotel, acara sudah dimulai...!!" Dan aku pun langsung tancap gas menambah kecepatan menuju lokasi acara. Lalu lintas yang padat dan pengendara becak yang seenaknya melawan arus, membuatku berulang kali mengucap.... "Jancuuuk...!!!"



Dan tak lama akhirnya sampai juga aku di salah satu hotel ternama di Surabaya itu. Acara telah dimulai.... Beberapa undangan tengah duduk manis di masing-masing mejanya. Dan akupun segera mengambil tempat di salah satu meja yang telah disediakan. Segelas lemon squash dingin kupesan untuk mengusir dahaga. Hari ini acara yang digelar adalah louncing menu terbaru oleh Chef Eko. Salah satu menu tersebut adalah 'Nasi goreng Jancuk'. Loh kok...???
Bagi masyarakat Suroboyo, mendengar kata "jancuk" bukanlah sesuatu yang asing. Kata ini kerap kali digunakan antar sesama arek-arek kota pahlawan untuk menunjukkan keakraban. Tetapi akan berbeda jika diucapkan oleh orang yang belum dikenal. Bisa-bisa malah memancing kesalahpahaman. Jadi jangan asal mengucap kata ini disembarang tempat....


Dengan ramah tuan rumah menyambut para tamu undangan. Dan sang jago masak pun mulai bercerita tentang menu terbarunya. Ide membuat kreasi nasi goreng Jancuk muncul secara tidak sengaja."Suatu siang saya ditodong rekan-rekan Departement Head untuk menyiapkan menu yang lain dari biasanya. Padahal saat itu baru saja menyesaikan hidangan makan siang dalam jumlah banyak untuk para tamu hotel" cerita chef Eko. Rasa capek membuat chef Eko berulang kali mengucap "Jancuk sik kesel aku rek...!!" untuk mengungkapkan kekesalannya. Akhirnya dengan terpaksa chef Eko membuat masakan yang sederhana tetapi dengan bumbu yang sedikit berbeda. Dengan sedikit kesal Chef Eko membuatkan nasi goreng dengan porsi jumbo serta rasa ekstra pedas dan bumbu terasi yang cita rasanya cukup kental dilidah.


Ketika disajikan ternyata banyak menimbulkan reaksi yang berbeda dari orang-orang yang menyantapnya. "Jancuk cek akehe....!!!" "Jancuk... cek pedes'e...!!!" Karena nasi goreng yang dibuat memang lebih dari biasanya. Porsinya lebih besar dan memiliki rasa pedas diatas rata-rata. Dari sinilah ide itu muncul... Jadi bagi yang ingin bernostalgia dengan selera lidah asli orang Surabaya mampir saja di Cafe Taman.. Sebuah menu nasi goreng ekstra jumbo dengan penyajian menggunakan alas daun jati tentu akan dengan cepat disajikan oleh chef Eko...



Menu nasi goreng jancuk ini bisa dinikmati setiap hari selama bulan April hingga Mei 2009. Dengan harga tiap porsinya Rp 37.500 nett. Satu porsi nasi goreng ini bisa dinikmati untuk 4-6 orang. Bagi yang tidak terlalu suka pedas bisa memesan sesuai selera, tetapi tetap dengan porsi yang sama. Selain menu ini selama bulan tersebut tersebut juga di gelar promo aneka menu gorengan. Menu-menu tersebut adalah smoked salmon choux dengan harga Rp.37.500,-nett, bologna potato Rp 31.000,- nett, tahu boom Rp. 31.000,- nett, dan martabak bombay dengan harga Rp 35.000,- nett. Pengin coba sensasi "Jancuk-nya...???"

08 April 2009

'Pempek Kedungdoro'


Laju sepeda motorku sedikit pelan menyusuri jalanan malam kota Surabaya. Lenggangnya ruas jalan sangat bertolak belakang dengan kemacetan dan kebisingan yang ditimbulkan suara knalpot dan deru mesin di siang harinya. Selepas magrib di beberapa pinggir jalan kota Surabaya mulai banyak bermunculan gerai kaki lima dengan menawarkan kenikmatan kuliner yang beraneka ragam. Ketika melewati ruas jalan Kedungdoro, pandangan mataku tertuju pada kerumunan para pembeli disalah satu gerai kaki lima. Gerai itu menawarkan nikmatnya pempek Palembang.


Meski pempek adalah makanan khas dari Palembang. Tetapi jika ingin menikmati kuliner asli Indonesia ini, warga Surabaya tidaklah perlu jauh-jauh ke Palembang. Dibeberapa titik kota Surabaya, telah banyak gerai-gerai yang menjajakan makanan ini. Salah satunya adalah Pempek Kedungdoro.


Gerai yang telah dibuka lebih dari 11 tahun ini memiliki cirikhas sendiri untuk penyajian dan rasanya. Jika kebanyakan pempek yang disajikan hanya terdiri dari kapal selam, lenjeran dan lenggang, tetapi di tempat ini ditambahkan lagi dengan mie putih atau mie kuning. Jadi porsi yang disajikan tampak lebih banyak dan mengenyangkan.


Menurut Ridwan anak dari pemilik gerai Pempek Kedung doro ini, cara penyajian pempek tak jauh berbeda dengan pempek pada umumnya. Pempek digoreng hingga berwrna kecoklatan, kemudian dipotong-potong dan disiram dengan saos cuko serta diberi mentimun yang diiris kecil-kecil. Yang membedakan dengan pempek asli palembang hanya pada sausnya. Jika saus di palembang lebih kental, karena menggunakan gula aren, sedangkan saus di Surabaya lebih encer karena sangat sulit mendapatkan gula aren di kota ini.


Gerai pempek yang mulai dibuka sejak pukul 17.00 hingga tengah malam ini, harga satu porsinya dipatok sebesar Rp.9.000. Sedangkan untuk varian macamnya terdiri dari 3 macam. Yaitu kapal selam, lenjeran, dan lenggang. Meski menjajakan makanan khas Palembang, tetapi gerai pempek Kedungdoro telah memodifikasi sesuai dengan lidah orang Surabaya. Jika di palembang lebih dominan rasa pedasnya, maka di Surabaya gerai ini lebih memberikan rasa yang manis dan tidak terlalu pedas.


Kebanyakan masyarakat Surabaya menyukai makan pempek Kedungdoro karena porsi yang disajikan sangat banyak dan sesuai dengan lidah kota Buaya. Beberapa penikmat pempek justru membeli yang masih belum digoreng. Biasanya untuk dimasak sendiri dirumah dan sebagian sisanya disimpan dilemari pendingin untuk dimasak dilain hari.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP